Dulu dan sekarang – perjalanan di Indonesia

Oke, teman-teman, hari ini saya ingin cerita sedikit tentang perjalanan-perjalanan saya di Indonesia. Saya sudah tidak tahu berapa kali saya pernah ke Indonesia tapi semakin banyak kali ke sana, semakin banyak jatuh cinta sama Indonesia. Dan kalau tahu saya, pasti tahu hobi favorit saya memang berkeliling pulau-pulau di Indonesia.

Jadi, coba saya mulai cerita sedikit tentang pengalaman perjalanan saya di Indonesia dari dulu dan sekarang.

Dulu, kalau saya kangen Indonesia, saya cuman harus booking tiket pesawat online…segampang itu. Biasanya saya juga booking hotel online untuk malam pertama saja. Terus habis booking-booking itu tinggal ngepak ransel {backpack} dan nunggu tanggal berangkatnya. Simpel banget sebenarnya.

Sunrise – Mount Bromo, East Java {1995}

Dulu, saya hanya bawa ransel biar ke mana-mana gampang soalnya biasanya saya gak ada rencana perjalanan jelas jadi gak tahu mau ke mana. Bawa ransel paling gampang, mau naik motor…bisa. Mau naik perahu…gak ribut-ribut. Mau naik bis…juga oke aja. Ya, memang berat sih tapi bawa ransel dengan semua barang sehari-hari di atas punggung ada perasaan bangkit sih. Asyik sih, buat saya.

Nah, mengenai gak ada rencana perjalanan yang jelas; … dulu saya begitu. Yang penting ada tiket pesawat pulang pergi ke Indonesia dan itu saja. Yang lain bisa diatur setelah sudah sampai di tanah Indonesia. Ya, kadang-kadang saya ada rencana perjalanan misalnya ingin ke pulau Sulawesi tapi itu aja, gak tahu persisnya ke mana dan mau ngapain di sana.

Tana Toraja – Sulawesi

Pikiran saya, santai saja, lihat aja nanti kalau sudah di tempatnya dan lihat perasaan hati saya pas di sana. Kalau memang bikin rencana perjalanan, bisa berubah juga {apa lagi di Indonesia!} jadi gak usah aja, lebih baik santai dan bebas ke mana-mana.

Tapi, dulu saya ada suatu perjalanan ke Indonesia yang saya gak ada rencana ke mana apa pun. Saya sampai di Indonesia malam dan besok paginya saya jalan-jalan mencari tiket pesawat. Saya beli tiket pesawat dari cowok di jalan {sounds dodgy, I know!} dan tiba-tiba pilih Kupang sebagai tujuannya. Lucu, ya? Waktu itu saya ada ide pingin ke Pulau Rote. Sebenarnya saya gak percaya bahwa saya akan benar-benar pergi jauh-jauh ke Pulau Rote tapi seberat keinginan itu ke Pulau Rote bikin saya tiba-tiba beli tiket ke Kupang dan itu sebenarnya langkah pertama untuk bikin mimpiku ke Pulau Rote terjadi.

Saya memang pergi ke Pulau Rote dan pulaunya seindah saya terbayang sebulumnya.

Pantai Nemberala – Pulau Rote

Dulu, ada waktu juga saya ada rencana “island hopping” dari Lombok ke Sumbawa ke Sumba ke Flores terus ke Maluku. Rencananya ingin ke Halmahera. Ide-ide perjalanan yang besar sekali tapi saya memang ada waktu dan ada uang secukupnya bikin terjadi. Saya siap-siap ransel besar untuk perjalanan lama dan jauh. Tapi…stop pertama di rencana perjalanan saya adalah Gili Trawangan dan terjadinya…saya tinggal di pulau lebih dari enam bulan. Yang paling jauh saya pergi waktu itu, ke Darwin, seminggu untuk perpanjang visaku. Ya, saya hanya bisa bilang…seperti tadi saya bilang… kadang-kadang rencana perjalanan itu gak terjadi gara-gara macam-macam alasan dan gak bisa apa-apa. Yang akan terjadi, akan terjadi dan orang-orang gak bisa apa-apa untuk berubah situasinya.

Mengenai booking penginapan, dulu, saya suka booking malam pertama dan malam terakhir dan itu saja, supaya semua waktu di antaranya bebas dan saya bisa ke mana saja dan bisa menginap di mana saja juga {kecuali kalau tempatnya populer dan penuh!}.

Dulu, saya suka perasaan bebas dan ikuti perasaan saja. Jadi, kalau dulu lagi perjalanan di Indonesia, saya tiba di tempat dan cari penginapan pas di sana. Bagusnya begitu, bisa lihat tempatnya dan kamarnya dan bisa bikin keputusan kalau suka atau tidak. Beda jauh daripada lihat foto-foto online aja. Dan juga bisa tawar-menawar harganya semalam. Kalau tempatnya memang sepi dan gak banyak tamu, pasti bisa turunin harganya semalam.

Sistem ini {gak booking sebelumnya} juga bagus kalau gak senang di tempatnya, gampang pindah ke tempat lain. Gak ada biaya pembatalan. Terbaliknya, kalau senang sekali di tempatnya dan ingin lebih lama di situ, biasanya gampang perpanjang bookingnya dan bisa tawar-menawar lagi kalau ingin menginap di situ lebih lama, misalnya satu atau dua minggu.

Tentu saja, jalan-jalan begini, maksud saya “backpacking” gak semua pelangi-pelangi, ada bagusnya dan juga ada tidak bagusnya. Iya, itu memang wajibnya semua macam-macam perjalanan, ya kan?

Yogyakarta – 1995

Dulu, tanpa rencana, saya tiba di Pulau Barrang Lompo {di Sulawesi} dan setelah di sana saya baru tahu bahwa gak ada penginapan di pulaunya. Wah! Astaga! Juga gak ada perahu balik ke daratan, jadi panik sebentar soalnya gak tahu saya mau tidur di mana malam itu. Tapi gak terlalu panik soalnya saya pernah tidur di pantai sebelumnya. Memang asyik sih, tidur di pantai. Di Pulau Barrang Lompo, saya jadi beruntung ketemu Ibu-Ibu yang tua sekali dan habis ngobrol dengan si Nenek ini, dia mengajak saya tidur di rumah keluarganya. Saya terima undangannya dan menginap di rumah lokal ini dan itu jadi pengalaman yang sangat asyik dan jadi kenangan yang istimewa sekali. Orang yang saya gak kenal dengan baik hati mengundang saya tidur di rumahnya. Saya belum pernah berpengalaman seperti itu dan karena itu saya gak pernah akan lupa pengalaman itu. Padahal setelah satu malam, besok paginya Pak Polisi ketok pintu depan rumah itu dan minta saya pergi. Wah! Katanya turis gak boleh di pulau itu! Saya disuruh pulang.

Nenek dan cucu – Pulau Barrang Lompo, Sulawesi

Dulu, jalan-jalan sendiri bikin saya paling senang hati. Saya tahu gak semua orang suka atau berani pun jalan-jalan di luar negeri sendiri. Di Indonesia, saya sering ditanya “Kok, sendirian?” Ya, memang sendirian dan saya juga suka sendirian.

Iya, coba saya jelaskan sedikit {untuk yang gak mengerti, ya}, jalan sendiri berarti bisa jalan di mana aja kamu mau dan bisa melakukan apa aja yang kamu mau juga. Gak usah berbicara negosiasi dengan teman mengenai mau ke mana dan mau ngapain. Ngantuk, tidur aja. Mau jalan-jalan, pergi aja. Mau berenang, ke pantai aja. Mau makan di restoran ini, silahkan aja. Bebas, pokoknya. Dan saya bangga diri saya sendiri, soalnya saya berani perjalanan jauh sendiri dan saya belajar banyak sekali.

One of my favourite solo adventures – Tanjung Puting National Park – Kalimantan

Justru yang saya ingin ceritakan adalah dulu saya gak ada tanggung jawab kalau saya ingin ke Indonesia – tinggal booking tiket online. Kalau saya ingin ke pulau tertentu, saya tinggal berani menujukan transportasi ke sana. Dan mengenai barang – gampak ngepak barang-barangku yang perlu.

Tapi…kalau lihat sekarang, mungkin 10 atau 20 tahun ke depannya…wah, saya seperti orang lain dibandingkan dengan cewek mudah itu yang pergi ke Indonesia, jalan-jalan ke mana saja sendiri dengan ransel saja dan gak ada ketakutan sama sekali.

Maju cepat ke sekarang. Sekarang saya sudah jadi Ibu, jadi semuanya berubah. Sekarang saya habis banyak sekali waktu mengurus rencana perjalanan dan booking online semua tiket-tiket pesawat {internasional dan domestik} dan juga semua hotel selama di sana. Dan jangan tanya mengenai ngepak…saya harus bawa semua barang yang perlu {dan tidak perlu juga! Ha!} untuk anak kecilku. Wah, gila banget! Banyak sekali barang.

Saya merasa bahwa saya baru belajar mengenai “travelling” gak seperti saya tahu dan melakukan dulu.

Ubud – Bali

Dulu, saya bisa jemur di pantai seharian dan membaca buku sampai habis. Sekarang saya gak bisa duduk diam lebih dari lima menit, harus ambil ini atau ambil itu.

Dulu, saya bisa ke luar malam minum cocktail sebanyak maunya dan ngobrol sampai pagi sambil nunggu matahari terbit. Sekarang saya ikut rutin dan lihat jam terus dan kejar waktu biar anakku tidur gak malam-malam. *Oh, sekarang masih bisa lihat matahari terbit soalnya annakku bangun pagi sekali – sebelum matahari terbit!

Sunset – Lovina, Bali

Dulu, saya bisa berbelanja seharian, gampang habis beberapa jam lihat-lihat buku di toko buku – sepuas mungkin. Sekarang tujuannya dan tinggalnya berapa lama di tempatnya – semua diatur si kecil. Kalau dia bosan atau gak tertarik, aku yang ditarik atau didorong ke luar dari tempatnya.

Iya, pokoknya banyak sekali yang berubah sekarang saya menjadi ibu {tentu saja, ya!} tapi…bukan artinya “travelling” gak asyik lagi, artinya hanya berbeda sekarang dan berubah dari dulu.

Dan sekarang yang bikin hatiku senang…bukan minun-minum sampai pagi lagi tapi lihat anakku berpengalaman banyak di luar negeri.

Anakku – Bali {2019}

Dari perjalanan banyak, saya berharap bahwa anakku juga ikut jatuh cinta dengan “travelling”. Saya ingin anakku tahu bahwa dunia ini besar dan indah. Pengalamannya akan banyak dan juga beda-beda tapi semua pengalaman itu akan berbentuk siapa dia dan itu penting sekali.

Apakah Anda suka perjalanan di Indonesia?

Pernah jalan-jalan sendiri “backpacking” di Indonesia? Suka atau tidak?

Dan, Anda suka perjalanan ke pulau-pulau mana saja di Indonesia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *